Mengenai Saya

Foto saya
i'm very-very happy dg keadaan kyu skrang

Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?

Diposting oleh moch. ilham maz perawat

Rabu, 24 Maret 2010

Ditulis oleh Safri Ishmayana pada 11-07-2005


AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.


Gambar 1A Struktur Virus HIV


Gambar 1B Daur hidup HIV

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.


Gambar 2 (klik untuk memperbesar)

Gambar 2 menunjukkan skema produk translasional dari gen gag-pol dan daerah di mana produk dari gen tersebut dipecah oleh protease. p17 berfungsi sebagai protein kapsid, p24 protein matriks, dan p7 nukleokapsid. p2, p1 dan p6 merupakan protein kecil yang belum diketahui fungsinya. Tanda panah menunjukkan proses pemotongan yang dikatalisis oleh protease HIV (Flexner, 1998).

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.


Gambar 3 (klik untuk memperbesar)

Gambar 3 menujukkan lima struktur inhibitor protease HIV dengan aktivitas antiretroviral pada uji klinis. NHtBu = amido tersier butil dan Ph = fenil (Flexner, 1998).

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat tentunya memerlukan penelitian yang tidak sederhana. Dapatkah obat tersebut ditemukan di Indonesia? Wallahu a’lam.

Pustaka:

  1. Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293
  2. Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. Clin. Microbiol. Rev. 11: 614-627.
Continue Reading

0 komentar:

hiv aids

Diposting oleh moch. ilham maz perawat

Pengertian, Definisi dan Cara Penularan / Penyebaran Virus HIV AIDS

- Info / Informasi Penyakit Menular Seksual / PMS

A. Virus HIV

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.

B. Penyakit AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.

Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.

C. Metode / Teknik Penularan dan Penyebaran Virus HIV AIDS
- Darah
Contoh : Tranfusi darah, terkena darah hiv+ pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi pada kulit yang terluka, jarum suntik, dsb
- Cairan Semen, Air Mani, Sperma dan Peju Pria
Contoh : Laki-laki berhubungan badan tanpa kondom atau pengaman lainnya, oral seks, dsb.
- Cairan Vagina pada Perempuan
Contoh : Wanita berhubungan badan tanpa pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks, dll.
- Air Susu Ibu / ASI
Contoh : Bayi minum asi dari wanita hiv+, Laki-laki meminum susu asi pasangannya, dan lain sebagainya.

Cairan Tubuh yang tidak mengandung Virus HIV pada penderita HIV+ :
- Air liur / air ludah / saliva
- Feses / kotoran / tokai / bab / tinja
- Air mata

- Air keringat

- Air seni / air kencing / air pipis / urin / urine

Tambahan :

Jangan mengucilkan dan menjauhi penderita HIV karena mereka membutuhkan bantuan dan dukungan agar bisa melanjutkan hidup tanpa banyak beban dan berpulang ke rahmatullah dengan ikhlas.



diterbitkan oleh : organisasi. org komunikasi & perpustakaan online indonesia
Continue Reading

0 komentar:

gizi sangat penting bagi penyakit kardiovaskuler

Diposting oleh moch. ilham maz perawat


Peran Gizi untuk Cegah Penyakit Kardiovaskuler Rabu, 9 Juli, 2003 oleh: SiswonoPeran Gizi untuk Cegah Penyakit Kardiovaskuler Gizi.net - Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di banyak negara maju maupun negara berkembang. Pola makan tak seimbang merupakan salah satu pemicu utama penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk sadar gizi. Kaitan gizi dengan penyakit kardiovaskuler dibahas dalam seminar sehari yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Departemen Kesehatan, Sabtu (5/7).Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, penyakit kardiovaskuler masih di peringkat ke-11 penyebab utama kematian di Indonesia. Tahun 1986 naik ke urutan ketiga. Adapun tahun 1992 dan 1995 sudah di urutan pertama.Menurut Dr dr Budhi Setianto SpJP dari Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penyakit kardiovaskuler/jantung koroner terjadi jika ada penyempitan pembuluh darah jantung oleh timbunan lemak (plak) sehingga jantung kekurangan oksigen.Faktor risiko yang tak dapat diubah adalah usia (lebih dari 60 tahun), jenis kelamin (pria lebih berisiko), serta riwayat keluarga. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi antara lain kebiasaan merokok, dislipidemia, kurang gerak, kegemukan, diabetes melitus, stres, infeksi, serta gangguan pada darah (fibrinogen, faktor trombosis dan sebagainya).Pola makanPenelitian mengenai pola asupan gizi dan profil lipid pada etnik Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Bugis sebagaimana dipresentasikan Dr dr Ratna Djuwita Hatma MPH dari FKM-UI mendapatkan perbedaan bermakna pada profil plasma lipid (total kolesterol, kolesterol LDL/lipoprotein densitas rendah/kolesterol jahat dan HDL/lipoprotein densitas tinggi/kolesterol baik)."Seseorang memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung koroner jika nilai plasma total kolesterol lebih besar dari 240 mg/dl, nilai plasma kolesterol LDL lebih besar dari 160 mg/dl, dan nilai plasma kolesterol HDL lebih kecil dari 35 mg/dl," kata Ratna.Rata-rata plasma total kolesterol dan kolesterol LDL etnik Minangkabau tertinggi. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan pola makan tinggi lemak hewani, tapi rendah serat dan sayuran. Hal ini pula yang menyebabkan tingginya proporsi penyakit kardiovaskuler di kalangan etnik Minangkabau.Makanan tradisional Minangkabau banyak mengandung santan dan daging. Kadar asam lemak jenuh (SAFA)-yang bisa meningkatkan kadar plasma kolesterol-kedua bahan makanan itu terhitung tinggi.Sementara asam lemak tak jenuh majemuk (PUFA) yang bersifat menurunkan plasma kolesterol banyak terkandung pada kacang-kacangan, tempe/tahu, ayam, dan ikan.Etnik Sunda, Jawa, dan Bugis mengonsumsi makanan lebih bervariasi meliputi protein hewani, sayuran, tempe, dan tahu dibandingkan dengan etnik Minangkabau. Kelompok yang makan tempe dan tahu meski mengonsumsi makanan bersantan, kadar kolesterol LDL/kolesterol jahatnya rendah.Menurut Dr dr Purwantyastuti MSc SpFK dari Bagian Farmakologi FKUI, tempe yang terbuat dari kacang kedelai difermentasi merupakan sumber flavonoids yang berfungsi menghambat peroksidasi lipid. Selain itu, juga tinggi kandungan PUFA, vitamin E dan B kompleks serta antioksidan.Namun, perlu diperhatikan cara memasak tempe agar flavonoids tidak rusak. Mengutip pelbagai penelitian, menurut Purwantyastuti, kadar isoflavone turun sampai 81 persen jika tempe digoreng, 69 persen jika dibuat keripik, 54 persen pada sambal goreng, 27 persen pada bacem tempe, dan 22 persen pada lodeh tempe. Makin tinggi suhu, makin banyak isoflavone rusak.Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dr Rachmi Untoro MPH memaparkan, masalah gizi dipengaruhi pelbagai faktor yang saling berkait, baik aspek kesehatan maupun di luar kesehatan. Di tingkat rumah tangga keadaan gizi banyak dipengaruhi kemampuan rumah tangga menyediakan pangan bergizi seimbang, asuhan gizi dan perawatan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan perilaku.Timbulnya penyakit degeneratif dipengaruhi kondisi sejak dalam kandungan dan masa pertumbuhan (balita dan usia sekolah) seperti bayi berat lahir rendah, kurang gizi serta beberapa penyakit infeksi yang berulang diderita. Keadaan makin berat jika di usia dewasa menerapkan gaya hidup tidak sehat (misalnya, merokok, pola makan tak seimbang, dan kurang gerak).Memperhatikan kondisi itu, kebijakan perbaikan gizi secara umum diarahkan untuk mewujudkan keluarga sadar gizi. Yaitu, keluarga yang melakukan perilaku gizi seimbang, mampu mengenali masalah kesehatan dan gizi bagi setiap anggota keluarga dan mampu mengambil langkah untuk mengatasi masalah gizi keluarga. Dalam upaya itu Depkes melibatkan organisasi profesi dan LSM. (ATK)
Continue Reading

0 komentar: