Rabu, 24 Maret 2010
Peran Gizi untuk Cegah Penyakit Kardiovaskuler Rabu, 9 Juli, 2003 oleh: SiswonoPeran Gizi untuk Cegah Penyakit Kardiovaskuler Gizi.net - Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di banyak negara maju maupun negara berkembang. Pola makan tak seimbang merupakan salah satu pemicu utama penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk sadar gizi. Kaitan gizi dengan penyakit kardiovaskuler dibahas dalam seminar sehari yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Departemen Kesehatan, Sabtu (5/7).Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, penyakit kardiovaskuler masih di peringkat ke-11 penyebab utama kematian di Indonesia. Tahun 1986 naik ke urutan ketiga. Adapun tahun 1992 dan 1995 sudah di urutan pertama.Menurut Dr dr Budhi Setianto SpJP dari Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penyakit kardiovaskuler/jantung koroner terjadi jika ada penyempitan pembuluh darah jantung oleh timbunan lemak (plak) sehingga jantung kekurangan oksigen.Faktor risiko yang tak dapat diubah adalah usia (lebih dari 60 tahun), jenis kelamin (pria lebih berisiko), serta riwayat keluarga. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi antara lain kebiasaan merokok, dislipidemia, kurang gerak, kegemukan, diabetes melitus, stres, infeksi, serta gangguan pada darah (fibrinogen, faktor trombosis dan sebagainya).Pola makanPenelitian mengenai pola asupan gizi dan profil lipid pada etnik Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Bugis sebagaimana dipresentasikan Dr dr Ratna Djuwita Hatma MPH dari FKM-UI mendapatkan perbedaan bermakna pada profil plasma lipid (total kolesterol, kolesterol LDL/lipoprotein densitas rendah/kolesterol jahat dan HDL/lipoprotein densitas tinggi/kolesterol baik)."Seseorang memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung koroner jika nilai plasma total kolesterol lebih besar dari 240 mg/dl, nilai plasma kolesterol LDL lebih besar dari 160 mg/dl, dan nilai plasma kolesterol HDL lebih kecil dari 35 mg/dl," kata Ratna.Rata-rata plasma total kolesterol dan kolesterol LDL etnik Minangkabau tertinggi. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan pola makan tinggi lemak hewani, tapi rendah serat dan sayuran. Hal ini pula yang menyebabkan tingginya proporsi penyakit kardiovaskuler di kalangan etnik Minangkabau.Makanan tradisional Minangkabau banyak mengandung santan dan daging. Kadar asam lemak jenuh (SAFA)-yang bisa meningkatkan kadar plasma kolesterol-kedua bahan makanan itu terhitung tinggi.Sementara asam lemak tak jenuh majemuk (PUFA) yang bersifat menurunkan plasma kolesterol banyak terkandung pada kacang-kacangan, tempe/tahu, ayam, dan ikan.Etnik Sunda, Jawa, dan Bugis mengonsumsi makanan lebih bervariasi meliputi protein hewani, sayuran, tempe, dan tahu dibandingkan dengan etnik Minangkabau. Kelompok yang makan tempe dan tahu meski mengonsumsi makanan bersantan, kadar kolesterol LDL/kolesterol jahatnya rendah.Menurut Dr dr Purwantyastuti MSc SpFK dari Bagian Farmakologi FKUI, tempe yang terbuat dari kacang kedelai difermentasi merupakan sumber flavonoids yang berfungsi menghambat peroksidasi lipid. Selain itu, juga tinggi kandungan PUFA, vitamin E dan B kompleks serta antioksidan.Namun, perlu diperhatikan cara memasak tempe agar flavonoids tidak rusak. Mengutip pelbagai penelitian, menurut Purwantyastuti, kadar isoflavone turun sampai 81 persen jika tempe digoreng, 69 persen jika dibuat keripik, 54 persen pada sambal goreng, 27 persen pada bacem tempe, dan 22 persen pada lodeh tempe. Makin tinggi suhu, makin banyak isoflavone rusak.Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dr Rachmi Untoro MPH memaparkan, masalah gizi dipengaruhi pelbagai faktor yang saling berkait, baik aspek kesehatan maupun di luar kesehatan. Di tingkat rumah tangga keadaan gizi banyak dipengaruhi kemampuan rumah tangga menyediakan pangan bergizi seimbang, asuhan gizi dan perawatan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan perilaku.Timbulnya penyakit degeneratif dipengaruhi kondisi sejak dalam kandungan dan masa pertumbuhan (balita dan usia sekolah) seperti bayi berat lahir rendah, kurang gizi serta beberapa penyakit infeksi yang berulang diderita. Keadaan makin berat jika di usia dewasa menerapkan gaya hidup tidak sehat (misalnya, merokok, pola makan tak seimbang, dan kurang gerak).Memperhatikan kondisi itu, kebijakan perbaikan gizi secara umum diarahkan untuk mewujudkan keluarga sadar gizi. Yaitu, keluarga yang melakukan perilaku gizi seimbang, mampu mengenali masalah kesehatan dan gizi bagi setiap anggota keluarga dan mampu mengambil langkah untuk mengatasi masalah gizi keluarga. Dalam upaya itu Depkes melibatkan organisasi profesi dan LSM. (ATK)


0 komentar:
Posting Komentar